hujan bulan juni bagiku

Hujan di awal juni semalam menyisakan syukur yang teramat dalam
Menderaskan cinta untuknya, pahlawan rumah kami.

Yang di tengah hujan deras di gelapnya malam
Menaiki atap rumah demi menghalau bocor di rumah kami
Yang tangannya masih sibuk melancarkan aliran got agar tak meluap membanjiri rumah.

Tangannya masih terus bekerja, sementara kami istri dan anak-anaknya sedang bergumul di atas kasur, membaca buku bersiap untuk terlelap (baca ngeloni anak-anak)

Tak jelas apakah kau berkeringat atau tidak, karena sekujur tubuhmu basah sejak kau menerjang hujan dan menaiki atap.

Abi hebat kata mamas, Abi keren kata dedek…
Demi mendapati abinya menyapa dari atas atap.
Sementara si istri lebih banyak diam, khawatir wong malam-malam, hujan gede koQ suaminya malah nekad naik genteng bersihin ranting yang menyumbat.

puisi lama ngendon di draft Juni 2015

Universitas Terbaik bagi anakku adalah Universitas Pangkuan.

Syukur Alhamdulillah saya dan suami keduanya suka membaca buku, di awal hidup bersama harta yang kami bawa dari kost masing-masing pun yang paling banyak adalah buku. Juga diwaktu seserahan pernikahan, kami sengaja mengalokasikan dana seserahan untuk dibelikan buku-buku pernikahan.

Mengapa saya bersyukur memiliki suami yang melek membaca karena ke depan nanti kami ingin membangun keluarga pecinta ilmu, dan dalam hal ini menurut saya akan lebih mudah jika suami memiliki visi yang sama dengan saya. Kami sepakat bahwa bermacam buku nantinya akan mewarnai perjalanan keluarga kami.

Perjalanan itu pun dimulai ketika kami diamanahi anak kami yang pertama. Di saat saya masih hamil kami sudah mengumpulkan beberapa buku-buku cerita anak. Lalu mulai membacakannya ketika si sulung masih dalam hitungan hari. Si sulung antusias sekali setiap kali dibacakan cerita. Ketika usia masuk hitungan bulan kami mulai mengenalkan buku teether yang terbuat dari kain dan berbunyi jika digigit.

Ketika mulai bisa duduk rasa penasaran si sulung makin besar, buku-buku dongengnya mulai dieksplorasi sendiri. Dibuka-buka sesuka hati sambil sesekali minta saya membacakannya. Namun bukunya yang tipis-tipis itu mulai dirobek-robeknya mungkin saking gemasnya. Saya pun musti rajin menyelotip buku-bukunya itu. Dan setelah diselotip, si sulung makin penasaran merobeknya. Bisa dibayangkan buku-buku berbahan tipis itupun tak terselamatkan lagi.

Mengetahui hobi barunya gemas terhadap buku-buku maka saya mulai mencari buku-buku berbahan tebal atau boarbook sebagai bahan bacaanya. Kemudian ketemulah dengan buku halo balita yang berbahan boardbook tebal. Kebanyakan orang tua jatuh cinta pada buku ini karena selain gambarnya menarik, isi ceritanya juga beragam mengenai pembentukan karakter islami anak-anak dan yang lebih menarik karena bahannya yang eksklusif di desain khusus agar tidak mudah sobek dan tidak mudah luntur jika terkena air.

Pasang surut ingin membelinya karena memang harganya tidaklah murah, tapi bismillah setelah memantapkan hati dan niat kamipun membelinya. Kami berfikir masa kecil anak kami tidak akan terulang jika tidak dibelikan sekarang maka nanti keburu cepat besar.

Berawal dari memiliki halo balita dan merasakan manfaatnya kamipun ketagihan memiliki buku-buku paket untuk anak-anak kami. Bagi kami buku paket ini sebenarnya memudahkan orangtua untuk mengajarkan tentang suatu tema, karena isi buku paket biasanya sudah terintegrasi satu sama lain. Sambung menyambung dari satu tema ke tema lainnya.

Jangan putus asa, ketika anak-anak pada awal dikenalkan buku sama sekali terlihat tidak tertarik. Teruslah mengenalkan buku pada mereka, membacakanya dengan lantang dan intonasi yang menarik. Sejatinya dibalik sikap tak peduli mereka, anak-anak merekam setiap apa yang kita bacakan kepada mereka.

Sesibuk dan selelah apapun, kami berusaha membiasakan membacakan buku setiap harinya minimal 20 menit. Anak-anak terbiasa memilih buku yang ingin dibacakan setiap harinya. Karena si sulung sudah keranjingan dibacakan buku, maka lebih mudah untuk menggiring adiknya menyukai buku. Melihat kakaknya yang suka bergulat dengan buku, si adik pun tak mau ketinggalan ikut sibuk dengan buku.

Setiap hari saya atau suami terbiasa memangku anak-anak dan kemudian mulai membacakan buku-buku itu dengan intonasi semenarik mungkin. Kami biasakan memperlihatkan cover buku dan mengeja judulnya dengan suara yang lantang. Bagi kami membaca buku punya banyak kelebihan dibandingkan aktifitas lain seperti menonton tv. Memangku mereka dan membacakan buku untuk mereka menumbuhkan kedekatan diantara kami.

Menjadikan anak-anak cinta membaca bukan berarti bergegas mengajari membaca karena kami lebih fokus untuk menumbuhkan kecintaan mereka terhadap buku. Jika sering dibacakan buku, maka lambat laun anak-anak akan ketagihan dengan buku-buku lainnya dan setelah ketagihan rasa penasaran mereka akan mendorong mereka untuk mulai belajar membaca. Beda dengan anak yang bergegas diajarkan membaca namun tidak dirangsang kecintaanya dengan buku, maka anak-anak yang sudah bisa membacapun seringkali malas membaca.

Hanya butuh hitungan pekan untuk mengajarkan anak membaca, namun butuh waktu dari sejak dini untuk menanamkan kecintaan anak-anak kepada kebiasaan membaca buku.

Ayah bunda, pangkulah anak-anakmu bacakanlah mereka buku, karena disitulah Universitas terbaik yang akan diingat anak-anak. Bacakanlah kisah tentang tokoh teladan sepanjang zaman, juga tentang hikmah dari berbagai sejarah kehidupan karena Universitas Pangkuan adalah sebaik-baik universitas peradaban.

Kemewahan masa kecil itu bernama buku.

Saya ini anak desa, lahir dari orangtua yang bukan pegawai dan seorang kakek yang berprofesi sebagai guru. Tapi bersyukur sekali, hal yang tak lupa dikenalkan oleh kedua orangtua saya waktu itu adalah buku. Melihat anaknya suka dengan bacaan, orangtua saya sesekali mengajak ke toko buku. Jangan bayangkan toko buku besar dengan banyak pilihan buku, di kampung saya toko buku nya adalah toko ATK yang di sisi tokonya juga menjual majalah, komik dll, koleksinya sedikit sekali tapi saya sudah merasa senang sekali tiap kali diajak ke toko ini. Bapak membolehkan saya memilih buku yang saya suka. Satu persatu saya beli, saya baca dan simpan dengan hati-hati. Bapak juga membuatkan rak dari kayu khusus untuk buku-buku saya.

Tidak hanya Bapak, mbah kakung yang waktu itu masih berprofesi jadi guru rajin sekali membawa majalah-majalah yang waktu itu masih berbahan kertas buram namanya majalah Kuncung. Bagi saya dulu diberi oleh-oleh majalah Kuncung ini adalah sebuah kemewahan, aroma kertas buram yg bergemerisik ketika dibuka masih jelas teringat sampai sekarang. Setiap edisi saya tunggu-tunggu dan saya selalu berbinar menerimanya.

Saya dulunya seorang pemalu, maka buku adalah sahabat andalan saya di tengah keramaian. Misalkan ketika diajak ikut menghadiri acara keluarga besar, karena saya pemalu maka sampai di tempat tujuan yang saya cari pertama kali adalah bacaan, entah itu sobekan koran atau majalah.

Zaman kecil dulu belum punya bacaan favorit karena Bapak tidak selalu punya uang untuk membelikan majalah atau buku anak-anak. Jika lama Bapak tidak mengajak saya ke toko buku maka saya tahu Bapak sedang tidak punya uang untuk membeli buku.

Hingga suatu saat terbersit ide, buku-buku yang sudah saya punya, akan saya pinjamkan ke teman-teman. Iya setelah meminta izin pada Bapak dan Ibu saya mulai membuka penyewaan buku di rumah. Saya tentukan aturan penyewaan dan juga harga sewa tiap-tiap buku. Untuk komik-komik mini waktu itu 1 buku saya pinjamkan dengan uang sewa Rp.25, untuk komik yang sedikit besar saya pinjamkan dengan Rp.50 dan untuk majalah-majalah seperti bobo, ananda, donal bebek buku besar saya pinjamkan dengan harga Rp.100,-.

Teman-teman antusias sekali menyewa buku pada saya, rajin main ke rumah meminjam buku. Uang-uang hasil sewaan itu saya kumpulkan dan kemudian setelah cukup saya minta diantar Bapak, Ibu ke toko buku, demi membeli buku-buku impian lainya.

Namun penyewaan buku itu terpaksa tutup ketika saya mulai beranjak dewasa dan indekost di kota kabupaten. Sampai sekarang di rumah orangtua saya masih ada buku-buku peninggalan zaman dulu itu. Meski sempat sedih mendapati sebagianya lapuk dimakan usia.

Kenangan masa kecil itu yang membuat saya punya mimpi, kelak saya akan membuat taman bacaan di sekitar tempat saya tinggal. Gratis tak berbayar, agar setiap anak mempunyai kesempatan mendapatkan kemewahan seperti yang saya rasakan dulu.

Kemewahan yang terangkum dalam lembaran-lembaran penuh makna,
Kemewahan yang akan membawa setiap pembacanya berkeliling dunia tanpa syarat,
Kemewahan yang menawaran pembacanya bisa mengambil ilmu langsung dari ahlinya,
Kemewahan agar pembacanya berkenalan dengan tokoh-tokoh hebat dunia
dan juga kemewahan yang akan memanjakan kita dengan berjuta imajinasi tak terbayangkan sebelumnya.

Bapak, ibu, embah Kakung terimakasih karena telah membawa aneka kemewahan itu ke dunia saya.

Manusia terlahir sebagai pemenang?

Kata motivator:Jpeg

“Setiap manusia terlahir di dunia sebagai pemenang. Dalam tahap pembuahan sel ovum oleh sel sperma setiap manusia harus berkompetisi 60 – 100 juta sperma untuk menuju kedalam sel ovum dan hanya satu saja yang dapat memasukinya dan itulah anda itulah sang pemenang yang kemudian lahir kedunia.”

Sebuah pola pikir yang maksud baiknya adalah agar manusia tidak mudah putus asa, agar manusia tidak merasa rendah diri.

Tapi… pernah suatu ketika menghadiri seminar motivasi, pembicaranya seorang dokter (sayangnya saya lupa namanya) beliau mengatakan bahwa sperma yang berhasil membuahi sel telur itu berhasil bukan karena semata-mata kehebatanya sendiri tapi disana ada peran sperma-sperma lain yang mengalah, yang kemudian malah mendukung dan bekerja sama agar si terpilih ini berhasil sampai ke tujuan.

Hmmm gak pernah terpikir hal itu sebelumnya, tapi saya setuju bahwa ketika seseorang hadir sebagai pemenang tentu ada banyak yang berperan di sekitarnya. Orang-orang berjasa yang tidak muncul ke permukaan yang bekerja di belakang layar.

Pola pikir yang menyebutkan bahwa kita semua terlahir sebagai pemenang, menurut saya tidak selalu berefek positif bahkan ada juga efek negatifnya. Contohnya gak usah jauh-jauh, lihat di sekitar kita. Karena saya roker saya kasih contoh yang berhubungan dengan kehidupan di atas rel.

Karena merasa dirinya pemenang maka ketika naik kereta semua orang merasa harus berebut untuk bisa naik (menang) ke atas kereta, sikut menyikut bahkan mendorong orang lain agar menjauh dari pintu bagi sebagian orang yang seperti itu sah-sah saja, tak perduli dzalim atau tidak yang penting menang, yang penting kebagian.

Turun dari kereta pun sama, menyikut, mendorong penumpang lain demi turun paling awal dari kereta bagi sebagian orang adalah lazim karena bagi sebagian banyak orang jangan sampai kita kalah dengan orang lain.

Itu baru urusan commuter line, lihat juga di jalan raya, betapa banyak orang yang takut dikalahkan orang lain, takut menjadi pecundang, sehingga ngebut, menerobos lampu merah, mengendarai motor di atas trotoar bagi mereka adalah lazim agar mereka bisa (dianggap) menang.

Masih kurang contohnya, silahkan cari sendiri di sekeliling kita.

Mengalah dan memberi kesempatan orang lain tidak selalu berarti buruk bukan? Justru mungkin mereka yang mengalah itulah yang sejatinya layak diberi gelar pemenang. Pemenang yang mengalahkan nafsunya sendiri.

Unek-unek dari seorang ibu yang masih sering kalah oleh egonya. Seringkali ikut berebut naik commuter line dengan alasan demi lebih cepat bertemu dengan buah hati.

Muhasabah diri dan memperbanyak doa semoga terhindar dari mendzalimi orang lain baik sengaja atau tidak disengaja.

Foto: antrian tap out @st Bojonggede

(sebelumnya sebagian besar penumpang ini berlarian turun kereta demi tapping out duluan).

#rombongan_kereta
#pemenang_sejati
#muhasabah

Tentang memenangkan lidah

Dulu kala di sebuah rumah kontrakan yang lapang (maklum isinya baru 2 orang), seorang istri termenung di depan seikat bayam dan panci. Perlahan tapi pasti diraihnya handphone, di carinya sebuah nama di barisan kontak. Love Ibu …. diujung sana suara sejuk menyapa.

“Ibu… bumbu sayur bayem apa aja”

hihihihi… istri itu adalah aku.
Yang nikah tanpa keahlian memasak, sekedar bikin mie rebus siy bisa, tapi bikin sayur, lauk pauk asing rasanya. Tapi bukan berarti panci, wajan kompor itu kemudian jadi musuhku. Aku memang gak pandai memasak tapi aku mau belajar masak.

Suami? Alhamdulillah gak pernah mencela apapun masakan istrinya. Kadang-kadang malah istrinya udah tau diri duluan, selesai masak, liat masakannya ya Ampuun gak tega makannya akhirnya gak disajikan ke suami. Hayuuk makan di luar aja hihihi..

Itu dulu… pas masih banyak trial & error nya. Kalo sekarang ga jauh beda😀
Tapi biarpun gagap dapur begini saya sudah punya pelanggan setia, mas Gaza dan uda Gibral namanya. Yang dari awal makanan masuk ke mulut mereka, itu adalah masakan ummi. Pertama kali merasakan bumbu di segala masakan maka itu adalah racikan umminya.

Setiap hari selalu saya sempatkan masak, meskipun masaknya cuma telor dan sayur ala kadarnya. Apa dimakan? alhamdulillah selalu dimakan oleh mereka.

Mungkin karena … kalo ga makan masakan ummi ya ga ada lagi yang ga bisa dimakan hehe.

Pernah ga anak-anak ga doyan makan? ya pasti pernah. Tapi mereka ga doyan makan saya ga pernah ambil pusing, wajar mungkin bosan, Nanti juga pada waktunya doyan lagi.

Saya punya prinsip, tahun2 pertama mereka mengenal makanan harus masakan saya yang mereka rasakan. Agar standar masakan enak bagi mereka adalah masakan saya.Ini bukan sekedar menghemat uang belanja, ini tentang memenangkan lidah mereka, agar kelak besar nanti jika mereka melanglang buana menebar manfaat kemanapun mereka akan selalu rindu masakan ummi.

Terimakasih ya anak-anak
yang udah jadi konsumen loyal masakan-masakan ummi selama ini.
Ummi mau semangat belajar masak terus biar bisa menyajikan makanan yang bergizi dan lezat buat kalian.

Catatan Prestasi Ramadhan 1435 H (games)

Games Ramadhan 1435( 2014 )

Waaah hampir aja terlewat bikin Games Ramadhan untuk Gaza & Gibral tahun ini. Umminya ga bisa mengatur waktu dengan baik. Akhirnya games Ramadhan ini baru dibikin Sabtu kemarin sambil nungguin sidang isbat.

Games Ramadhan kali ini temanya seperti buku catatan amal, kenapa dalam bentuk buku? Karena games tahun-tahun sebelumnya tidak terdokumentasi alias selesai Ramadhan tak terpakai lagi bahkan kemudian dibuang, dokumentasinya ya hanya di blog dan fb saja.

Tahun ini ummi buat buku “Album Prestasi Ramadhan” untuk mamas & adek, sebenernya si adek belum tapi biar rame diikutkan saja.

1

Album Prestasi Ramadhan Gaza & Gibral Sampul koran dikasih kertas bufallo hijau

Di dalam album ini setiap halamanya ada catatan harian Ramadhan mas Gaza. 1 hari ummi temple dengan ilustrasi-ilustrasi lucu (ambil diinternet-print-fotokopi). Ada gambar puasa, sedekah, shalat jamaah, menyayangi teman (ga berantem), belajar alQuran, Berdoa dan senyum (tidak marah).

Setiap melakukan kebaikan-kebaikan diatas Ummi akan gambar Love di samping gambarnya, lovenya suka-suka Ummi kalo yang menurut Ummi punya nilai lebih maka Lovenya bisa lebih dari 1. Sebaliknya kalo mamas melakukan hal kurang baik, Ummi akan gambar tanda silang di dekat ilustrasi.

2

Halaman album prestasi Hari #1 Ramadhan mamas dapat 17 love, 1 x, total 16. x yg satu lagi umminya salah nulis (harusnya u/ hari kedua)


Selain album prestasi, Ummi juga buat teka-teki warna-warni yang digantung di pintu kamar Mas Gaza. Teka-teki itu bernomor 1-30 dan dibaliknya ada teka-teki yang harus mamas pecahkan. Teka-teki ini seputar pengetahan yang sudah anak bisa aja, yang mudah dijawab, untuk Gaza ummi pertanyaanya seputar hafalan surat, nama nabi, nama malaikat, fungsi anggota tubuh, planet di alam semesta dll. Hari pertama kemaren pertanyaan yang dijawab mamas a/ seputar anggota tubuh yang dia punya.

3

Bikin nomor 1-30 dibaliknya ada teka-teki. Lubangi dg holer

4

Teka-teki tadi digantung di pintu kamar Gaza, setiap selesai maghrib dipetik. Jika benar menebak teka-teki maka mamas akan dapat Love tambahan

5

Mamas bantuin tempel-tempel ilustrasi pas bikin


Setelah berbuka puasa Ummi dan Mamas akan menghitung jumlah Love yang didapat, tanda silang akan mengurangi jumlah Love ya. Seperti hari pertama kemaren mamas berhasil mendapat love 17 dikurangi tanda silang 1, totalnya ada 16 Love.

Nah Love ini bisa ditukar dengan hadiah yang Mamas mau, kemaren anaknya minta helm motor, Ummi bilang helm ini harus ditukar dengan 15 love. Karna mamas punya love 16 jadi sisa love mamas tinggal 1 deh. Oya untuk Gibral baru ikut meramaikan kegiatan mamasnya saja. Untuk hadiah Gibral biasanya dapat hibah hadiah dari Mamas

Semangat sampai akhir Ramadhan ya Mamas.
Tanda cinta dari ummi & abi

Baca juga
Games Ramadhan 1434 H https://simplyndah.wordpress.com/2013/07/08/petualangan-mencari-harta-karun-ramadhan-games/
Games Ramadhan 1433 H https://simplyndah.wordpress.com/2012/07/19/bintang-ramadhan-untuk-gaza/
Games Ramadhan 1432 H https://simplyndah.wordpress.com/2011/08/01/proyek-ramadhan-untuk-gaza/

Lagi belajar Njait :D

Sebenernya punya mesin jahit udah lama dari tahun lalu, segitu mupengnya pengen mesin jahit udah ngebayangin pengen bikin ini itu dan dikumpulin disini ide-idenya http://www.pinterest.com/simplyndah/ndondom/. Hihihi padahal kan musti telaten belajar njait dulu dari awal dan ternyata ga bisa atur waktu.

Jadilah itu mesin jahit kelamaan nganggurnya.

Beli mesin jahit ini via arisan online, ada ummahat yg hobi jahoit plus jualan mesin. Dia bikinin arisanya dengan harga sama dengan tunai. Ga ada biaya administrasinya. Tapi beliau sementara ini udah ga buka arisan lagi sama suaminya gak direstui.

Mesin jahit yg saya pilih adalah BROTHER GS 2700 ada 27 pola jahitan. Tadinya mau beli yg 14 pola aja toh cuma mau dipake belajar, tapi kata suami suruh beli yg bagus sekalian. Asyiiik.

Pas ibu di kampung tau aku beli mesin jahit, langsung dimarahin. Katanya pake mesin jahit punya ibu aja kan di rumah udah ga dipake. Iya ibuku itu jago njait, miss perfectionist kalo soal jahitan. Kalo njait baju ke tukang jait ada yg belok dikit jaitanya pasti sama ibu langsung dibongkar dan dijahit ulang. Laaah kita anak-anaknya suka heran kenapa dari awal ga jahit sendiri aja? tapi begitulah ibu😀. Mesin jahit ibu penampakanya kaya gini

singer

Mesin jahit Ibuku

Kalo pake mesin jahit gowes ini aku sering banget salah gowes harusnya ke depan malah ke belakang. Ribet tapi otak kanan kiri sama-sama kerja. Nah yg punyaku lebih modern donk. tinggal injek pegasnya mesin jahit langsung jalan tinggal ngatur kenceng pelanya aja, mo ganti pola juga tinggal puter.

1251-1

Trus selama ini udah bisa bikin apaaa….?

Karena aku ga tau caranya bikin pola jadinya ilmu yang dipake ya kira-kira. Udah bikin sprei kasur busa (bahanya pake sprei bekas),  bikin celana anak-anak (polanya njiplak pake celana yg udah jadi), celana ummi dan prestasi terbaru liburan kemarin 20 April udah bisa bikin gamis rumahan. Horeeeeee, emang siy ada yg bilang yaelaah tinggal beli aja itu gamis kan bisa. Tapi kebahagiaan itu yg ga bisa kebeli, bisa bikin baju sendiri. Seneng🙂🙂🙂 *mulai ketagihan.

Nah yg belum pernah dibikinin apa-apa itu abi. Kalo bikin celana bocah sama bajuku kan bahanya gampang. Aku beli kain kiloan di ruko anggada cibinong waktu itu, kalo bikinin buat abi motif dan bahanya musti beli kain beneran🙂. Kain kiloan juga kain beneran cuma kebanyakan kainya bekas potongan yg lebarnya terbatas.

Nanti deh ya bi, ummi bikinin kalo dah lebih PEDE.

Yg paling susah dari menjahit itu adalah “NYARI WAKTU”,  bisa njait kan kalo libur doank, kalo libur ART libur kerjaan rumah kepegang sendiri belum lagi baru megang benang anak-anak udah nimbrung narik-narik benang mainan spull dll. Huaaa tapi enjoy aja.

Berikut beberapa karya saya

Bojonggede-20140419-00523

Gamis rumahaaaan eaaa Selama ini kalo beli gamis selalu nyingkrang. Kalo bikin sendiri bisa sesuka hati panjangnya.

Bojonggede-20131231-00184

Celana panjang belum dikaretin

Semua tampak rapi kalo difoto padahal kalo liat aslinya whoalaaah jaitanya mencong kanan kiri.

Gpp kan masih belajar, semangaaat terusss ya.

*padahal dulu ngebayangin punya Gallery Karya Jahit sendiri, sampe-sampe udah nentuin nanti merknya apa. Perjalananya masih panjaang ternyata😀