Komprod 4: Pilihan Liburan

 

Tadi siang sepulang mengajar di bogor bersama si bayi, mamas merajuk meminta liburan minggu besok. Dia berbicara panjang lebar, memberikan alternatif liburan yang dia mau. Ke mal beli hotwheel, berenang, ke ancol dsb.

Ummi yang sibuk mengurus adik bayinya. tidak terlalu menanggapi, akhirnya dia ngambek. Menyadari anaknya ngambek saya perbaiki cara komunikasi saya. Saya minta mamas menuliskan tempat2 tujuan yg dia mau di selembar kertas. Karena saya masih sibuk mengurus adik bayinya.

15 menit lebih dia menulis, serius sekali. sementara dia menulis saya bisa mengurus adik2nya. Selesai menulis dia menyerahkannya pada saya. Pilihannya banyak ternyata

  1. Ke seaworld ancol
  2. Ke taman mini
  3. Ke taman safari
  4. Ke kebon binatang
  5. Berenang di vila bogor indah
  6. Ke mall
  7. Ke itc

 

lalu kami mengevaluasi tiap2 pilihan itu 1-4 disilang karna tidak bisa mendadak harus dipersiapkan termasuk dana. No 5 diskip karna februari besok sudah ada agenda berenang. No 7 terlalu jauh dari rumah. No 6 yang tersisa. Setelah ngobrok motivasinya ke mol adalah membelo hotwheel. Hmmm… maka kami sepakati bahwa hotwheel saja  tidak boleh  lainnya.

Berhubung. besok umi abi banyak kegiatan akhirnya ke mall kita sepakati siang itu juga Alhamdulillah anak2 kooperatif sepanjang jalan, tidak ada yang merengek, tidak ada yang ngambek, membeli mainan pun sesuai tujuan awal, hotwheel.

Sesungguhnya mereka hanya ingin lebih banyak didengar, seperti saya sebagai orang tua yang seringkali menuntut untuk mereka dengarkan.

#KeluargaElrahman
#UmmuGazaNotes
#hari4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

 

Komprod 3: Kegagalan Komunikasi

Sepulang kerja, lepas maghrib semalam, saya mendapati anak sulung saya tidak di rumah. Ternyata dia main di rumah tetangga. Saya kesal, ingin marah karena kami sudah punya kesepakatan bahwa selepas shalat maghrib di Mushola tidak boleh main harus di rumah. Dan ini sudah kesekian kali dia melanggarnya.

Tidak lama kemudian dia pulang, untuk meredam marah saya diam. Dan anak saya langsung menyadari kesalahannya, ketika melihat saya mendiamkannya.

Saya: “Mamas tau apa kesalahan mamas?”

Gaza: “Tau, main abis maghrib”

Saya: “Kenapa masih main juga?”

Gaza: “Karna mamas kepengen main”

Hmmm saya masih harus menyusun strategi bagaimana membuat dia menyepakati aturan. Komunikasi kali ini saya anggap gagal L

 

#KeluargaElrahman
#UmmuGazaNotes
#hari3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komprod 2: Martabak Manis atau Roti Bakar?

Semalam seperti biasa keluarga kami duduk di ruang tengah sambil bersantai. Si sulung tiba-tiba merajuk, pengen makan katanya. Mengajak abinya keluar rumah cari makanan. Menu di rumah semalam memang hampir habis, sayur sawi dan tongkol goring telur hanya tersisa sedikit, dimasak pagi tadi sebelum saya pulang kerja. Sudah tidak menggugah selera mungkin bagi anak-anak.

Maka semalam saya beri lampu hijau anak-anak dan abinya untuk membeli makanan. Sebelum berangkat saya Tanya dulu makanan apa yang kira-kira mau dibeli. Sulung saya mulai menyebutkan makanan yang ingin dibelinya.

Mas Gaza: “Beli martabak manis kalo engga beli roti bakar blueberry”

Ummi: “Harganya berapa bi?” umminya ga hapal karena yang biasa jalan cari makan ya abi dan anak-anak.

Abi: “Martabak Manis 25ribu, roti bakar 17 ribu”

Ummi: “Oke mamas pilih salah satu ya, mamas sekarang sudah tau harganya. Kita ga boleh terlalu sering jajan ya kan uangnya mau ditabung”

Mas Gaza: “Siap mi, mamas beli roti bakar blueberry aja ya”

Itulah forum keluarga kami semalam, forum ringan untuk menentukan jajan yang mana? Kami sedang berusaha membiasakan anak-anak menentukan pilihan, mengajarkan mereka agar mengetahui alasan mereka memilih sesuatu dan kemudian bertanggung jawab terhadap pilihan itu

#KeluargaElrahman
#UmmuGazaNotes
#hari2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komprod Hari 1: A Home Team, forum keluarga via WAG

2017-01-25_132735

Salah satu media yang saya manfaatkan untuk berkomunikasi dengan suami adalah via WAG atau Whatsapp Grup.
Saya buat grup ini tangal 2 Desember 2015. Isinya cuma saya dan suami, loh kalo isinya cuma berdua apa bedanya dengan chat biasa melalui wa?

Grup ini saya beri nama A HOME TEAM. Kalo di chat dengan suami itu obrolannya bisa sangat random, dari mulai nitip beliin bawang, udah sampai mana dsb. Nah di WAG Home Team ini khusu dibuat untuk diskusi seputar pendidikan anak dan isu-isu keluarga. Jadi bahasan terkait pengasuhan anak dan keluarga tidak tenggelam tertutup diskusi lainnya. Itulah tujuan utama WAG ini dibuat.
Semalam komunikasi pertama yang kami lakukan adalah menshare game dari program bunda sayang IIP terkait Komunikasi Produktif.
Belum ada respon dari suami sampai dengan hari ini, tapi setidaknya suami tau percis topik apa yang sedang menjadi pusat perhatian istrinya terkait pengasuhan anak dan keluarga.

Diskusi melalui wa grup ini cukup efektif sebagai warming up sebelum diskusi sebenarnya dimulai di dunia nyata. Karena suami sudah tau arah bahasannya mau kemana.

#KeluargaElrahman
#UmmuGazaNotes
#hari1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Game Kelas Bunda Sayang 1

Game Kelas Bunda Sayang

Level 1
TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIkASI PRODUKTIF

Selamaaat anda memasuki game level 1, di kelas bunda sayang ini.

Dan inilah tantangan bulan ini :

KOMUNIKASI KELUARGAKU

a. Buatlah “family forum” ( forum keluarga) sebagai sarana komunikasi ala keluarga anda.

b. Ceritakan dg narasi pendek dan boleh disertai foto,

🍀Hal menarik apa saja yang anda dapatkan dalam berkomunikasi dengan keluarga anda hari ini?

🍀Perubahan apa yang anda buat hari ini dalam berkomunikasi?

c.Waktu yang kami berikan dari tanggal 24 januari –  11 feb 2017.

d. Anda cukup mengupload/menceritakan 10 hari dari 17 hari yg kami sediakan.

e. Setiap kali posting/upload gambar jangan lupa pakai hastag

#hari1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

f. Posting link tulisan dan foto anda di grup FB kelas

g. Bagi anda yang sudah menyelesaikan tantangan di level 1 ini dengan tepat waktu akan mendapatkan badge cantik bertuliskan

I’m responsible for my communication result

yang sudah disiapkan oleh para tim fasilitator bunda sayang.

Selamat berkreasi dalam membangun komunikasi

Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang 2017/

1. Komunikasi Produktif

Institut Ibu Profesional
Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata  masalah gantilah dengan tantangan

Kata Susah gantilah dengan Menarik

Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya

Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.

Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang – Emosi kecil; bila Nalar pendek – Emosi tinggi

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.

Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa –sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali– maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.

Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. Kaidah 2C: Clear and Clarify

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan “Aku jujur. Sumpah berani mati!” namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact

Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati

Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. Kaidah: I’m responsible for my communication results

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

KOMUNIKASI DENGAN ANAK

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy

Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.

✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati

⛔Kalimat tidak produktif :
“Masa sih cuma jalan segitu aja capek?”

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. Ganti perintah dengan pilihan

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat

Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000

Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014

Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

 

RESUME DISKUSI

[8:02 PM, 1/23/2017] +62 856-1098-170:  Nurmintauli: Jleb sekali langsung dapat materi komunikasi produktif. Saya masih termasuk orang yang disebutkan dalm komunikasi tidak produktif. Terutama ke anak. Karna kalo ke suami sih dah tau tipe saya. Jadi maklum… Hihihi. Yang saya tanyakan bagaimana cara dan tips apalagi sedang dalam keadaan labil untuk tetap berkomunikasi ke anak tanpa raut wajah marah mimik yang masih terkontrol dan intonasi yang tidak meninggi?
[8:05 PM, 1/23/2017] +62 857-1134-4529: 💐ini pun masih menjadi PR buat saya bun. Saya tipikal orang yang cara bicaranya suka dianggap membentak dan seperti marah-marah oleh suami. Teknik komunikasi saya harus diperbaiki karena proporsi terbesar dari berkomunikasi itu di bahasa tubuh dan intonasi. Tips dari bu septi: latih bahasa tubuh kita, intonasi suara (berikan jeda utk setiap kalimat), secara fisik ketika berbicara dekatkan dagu ke leher. Ini yg mau saya coba praktikan juga.
Saat berkomunikasi pada anak namun kondisi emosi tidak stabil, saya cenderung utk mengelola emosi saya pribadi dulu (menjauh dari anak sebentar untuk meredakan emosi), tinggalkan pekerjaan yang bisa menjadi pengganggu saat berkomunikasi pada anak✔
[8:08 PM, 1/23/2017] +62 856-1098-170: 2⃣ Nurmintauli: Kadang anak kalo dipanggil dengan suara ramah baik berkali2 tidak menyahut membuat kesal dan akhirnya mendiamkan tapi tetap dia tidak mengerti bagaimana solusinya. Misalnya, Nak mama minta tolong ambilkan bantal. tapi dia seakan pura2 tidak dengar.
[8:10 PM, 1/23/2017] +62 857-1134-4529: 2⃣anak tidak pernah salah mengcopy perilaku orang-orang disekitarnya. Bunda bisa coba memberikan contoh kepada anak. Misal anak ingin meminta sesuatu, jika anak memintanya dengan kata-kata positif maka kita bisa segera bereaksi melakukan permintaannya. Cobalah memberikan respon yang sesuai, misal saat kita tdk bisa membantu pd saat itu juga, maka berikan respon. “nak, maaf bunda sedang memasak. Jika ditinggalkan nanti masakannya gosong. Tunggu sebentar ya.” minimal anak mengetahui bahwa permintaannya direspon oleh kita.✔
[8:14 PM, 1/23/2017] +62 856-1098-170: 3⃣ Nurmintauli: Bagaimanakah melatih diri untuk tetep bisa menjaga perkataan selalu tidak menyakiti anak walau dalam keadaan marah
[8:19 PM, 1/23/2017] +62 857-1134-4529: 3⃣Marahnya ibu bisa menjadi doa. Semarah-marahnya dengan anak, jangan sampai ada kata-kata negatif yang terucap. Saya teringat cerita imam masjidil haram yang saat kecilnya cukup aktif dan sulit diatur. Dalam kondisi seperti itu ibunya tak pernah mengucapkan kata-kata buruk. Ibunya mendoakan agar anaknya bisa menjadi imam masjidil haram. Dan alhamdulillah ketika dewasa doa sang ibu terkabul. Ini yang perlu kita tanamkan.

Ibu emosi pada anak menurut saya wajar. Marahnya ibu adalah tanda sayang kepada anak.

Ketika marah akan sesuatu hal, beritahukan apa yg tidak kita suka dari perilaku dan perkataannya. Pada anak yg sdh bisa diajak berpikir, bisa dicoba komunikasi refleksi. Sehingga anak memahami dgn jelas hal-hal yg menyebabkan ia dimarahi/ditegur✔
[8:22 PM, 1/23/2017] +62 856-1098-170: 4⃣ Heru: Apa indikator seseorang sudah menjadi produktif dalam berkomunikasi, jika tipe anak yang sensitif jika dikritik reaksi yang keluar  hanya pembelaan yang terkesan mengada ada, bagimana cara mengkonunikasihan jika anak harus dikritik dalam hal tertentu?
[8:25 PM, 1/23/2017] +62 857-1134-4529: 4⃣indikatornya bisa dilihat pada ciri-ciri komunikasi produktif yg sdh dijabarkan di dalam materi ya..

Dalam memberikan masukan perlu right time dan right place. Pada anak yang sensitif bunda bisa mencari waktu dan tempat yg tepat utk melakukan kritik. Saat ego anak sedang tinggi, komunikasi yang dilakukan tidak akan optimal. Bunda yang lebih paham kapan ego anak tdk terlalu tinggi dan bagaimana cara mengkomunikasikannya.✔
[8:28 PM, 1/23/2017] +62 856-1098-170: 5⃣ Heru: Anak lebih sering mengalihkan perhatian ketika berbuat salah, adakah kaitan antara antara komunikasi dalam hal ini? Bagimana solusinya jika demikian?
[8:30 PM, 1/23/2017] +62 857-1134-4529: 5⃣Mengalihkan perhatian bisa jadi tanda bahwa ada sesuatu yg ditutupi. Bunda bisa berlatih membaca bahasa tubuh dan intonasi bicara anak. Kondisikan agar bunda menjadi teman bagi anak sehingga anak merasa nyaman bercerita kepada bunda✔
[8:32 PM, 1/23/2017] +62 856-1098-170: 6⃣ Embang: Apakah cara komunikasi berkaitan dengan karakter seseorang ? Jika iya, apakah orang tersebut harus merubah karakternya sehingga pola komunikasinya menjadi berubah pula ? Terima kasih
[8:33 PM, 1/23/2017] +62 857-1134-4529: 6⃣jika karakter yang dimaksud seperti suara yang lantang dan yang lembut, ini bisa jadi satu tantangan yg perlu disiasati.
Pada orang yg memiliki kebiasaan bicara keras, perlu dilatih agar optimal di bahasa tubuh dan intonasi. Bukan mengubah karakter namun melatih olah tubuh dan vokal sehingga hasil komunikasinya lbh sesuai dgn tujuannya.✔
[8:34 PM, 1/23/2017] +62 856-1098-170: 7⃣ Sari: Bagaimana caranya menjalin komunikasi produktif dengan orang yang selalu menyalahkan orang lain, jadi apapun yang kita bicarakan selalu dianggap salah?
[8:38 PM, 1/23/2017] +62 857-1134-4529: 7⃣ada 2 kemungkinan proses komunikasi produktif tdk berjalan lancar:
1. Waktu dan tempatnya tdk tepat
2. Karakter orang tsb yg sulit utk diberikan masukan

Pada kondisi pertama, bisa dicoba komunikasi dengan mencari waktu dan tempat yan pas.

Pada kondisi kedua, jalin hubungan baik dulu dengan orang tersebut, dalami karakteristik orang tersebut. Jika sudah menyampaikan argumentasi kita dan dia tetap menyalahkan, tanyakan alasannya .. jika masih suka berdebat ,tinggalkan✅

hujan bulan juni bagiku

Hujan di awal juni semalam menyisakan syukur yang teramat dalam
Menderaskan cinta untuknya, pahlawan rumah kami.

Yang di tengah hujan deras di gelapnya malam
Menaiki atap rumah demi menghalau bocor di rumah kami
Yang tangannya masih sibuk melancarkan aliran got agar tak meluap membanjiri rumah.

Tangannya masih terus bekerja, sementara kami istri dan anak-anaknya sedang bergumul di atas kasur, membaca buku bersiap untuk terlelap (baca ngeloni anak-anak)

Tak jelas apakah kau berkeringat atau tidak, karena sekujur tubuhmu basah sejak kau menerjang hujan dan menaiki atap.

Abi hebat kata mamas, Abi keren kata dedek…
Demi mendapati abinya menyapa dari atas atap.
Sementara si istri lebih banyak diam, khawatir wong malam-malam, hujan gede koQ suaminya malah nekad naik genteng bersihin ranting yang menyumbat.

puisi lama ngendon di draft Juni 2015